Kata Pengantar Buku

 

 

Renungan tentang Buku Baru Maha Guru Ching Hai


Burung-burung dalam Hidupku

Oleh Helmut Nitzschke, sutradara film, Berlin, Jerman (Asal dalam bahasa Jerman)

 

 

 

Setelah mengetahui jumlah tugas dan pekerjaan Maha Guru Ching Hai yang banyak, seseorang akan bertanya-tanya, bagaimana Ia dapat mengatur waktu dan energi untuk menulis sebuah buku. Bagaimanapun, setelah mengetahui siapa Pengarangnya, seseorang tidak bertanya lagi; sebaliknya mereka akan mempunyai rasa ingin tahu seperti seorang anak kecil dan mereka akan merasa senang saat menjelajahi hasil karya terbaru dari ide kreatif yang berasal dari Guru dalam sebuah buku tentang makhluk lain yang berjudul Burung-burung dalam Hidupku.

Buku penuh warna yang menonjolkan banyak gambar di dalamnya merupakan perwujudan kasih antara Sang Pengarang dengan burung-burung peliharaan-Nya. Sang burung diperkenalkan dengan karakter yang menyerupai manusia yang mempunyai kepribadian yang jelas. Setiap kisah mempunyai sebuah perjalanan dari kehidupan yang sedih dan keras menuju pembebasan. Banyak di antara mereka yang datang dari toko binatang peliharaan atau penampungan binatang dan pada akhirnya jatuh dalam perawatan penuh kasih-Nya.

Seisi buku itu, Guru memuji keindahan jasmani dan rohani mereka. Dengan demikian, secara lembut telah mengundang para pembaca-Nya untuk lebih menyadari harta karun sejati akan kebijaksanaan teman-teman bersayap kita. Beberapa gambar menunjukkan peristiwa saat Guru berkomunikasi dengan burung-burung-Nya. Jawaban yang mereka sampaikan sangatlah singkat. Ini mungkin karena hanya sedikit yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa manusia. Apakah jawaban singkat ini disengaja? Atau apakah ini merupakan suatu cara agar para pembaca berpikir tentang bahasa lain yang burung katakan, atau dialog seperti apa yang sedang terjadi? Atau, akankah pertanyaan-pertanyaan seperti ini untuk membuat "Ibu," yang dipanggil oleh peliharaan bersayap-Nya meledakkan tawa dalam gaya-Nya yang terkenal bersama dengan sang burung?

Setidaknya manusia akan sadar bahwa apa yang dapat diungkapkan dalam bahasa manusia sangatlah sedikit dan semoga hal ini dapat memotivasi mereka untuk mencari cara untuk menuju pengertian yang lebih dalam tentang makhluk yang sangat indah ini. Satu kondisi yang jelas adalah: Jika kita tidak menerima kepribadian ini sebagai hal yang sama (dengan manusia - catatan penterjemah) maka kita tidak akan sampai di sana. Tidak ada ruang bagi prasangka atau ilusi akan keunggulan. Riset dalam bidang psikologi telah mengkonfirmasikan kemampuan binatang untuk membaca aura manusia dan bereaksi atas maksud mereka. Mereka membalas rasa sayang dengan cinta kasih. Beberapa pecinta binatang yang sensitif bahkan sering menggambarkan perasaan dimana Tuhan melihat mereka melalui mata para hewan.

Guru dapat melihat lebih. Ia tidak hanya mengetahui bahwa Tuhan menciptakan hewan sebagai makhluk spiritual, tetapi Guru juga dapat berkomunikasi dalam bahasa mereka sendiri. Dalam dialog antar Sang Pengarang dengan burung-burung-Nya, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tak terlihat dan tak terdengar yang ada di luar pikiran manusia. Apakah ada suatu cara untuk mencapainya?

Seperti dalam sebuah meditasi, Guru kembali pada satu tema, yaitu tema kasih antara Ia dan binatang peliharaan-Nya. Saya percaya bahwa Ia ingin menanamkan suatu ide di dalam hati kita dimana kasih surgawi tanpa syarat adalah cara untuk menjangkau makhluk lain. Kasih mulia terhadap semua makhluk hidup ini membuat dunia menjadi lebih damai dan indah. Bagi saya, ini adalah pesan yang paling penting dari buku Burung-burung dalam Hidupku. Dan itulah mengapa cerita tentang pejuang perdamaian dari hewan bersayap ‘Anakhan’ telah menyentuh hati saya dengan dalam.

Orang lain mungkin berkata, "Baiklah, tetapi apakah cerita tentang burung-burung ini sedikit berlebihan?" Saya meminta kepada orang itu untuk mempertimbangkan perkataanya lagi. Mungkin kita dulunya merupakan burung-burung yang dikotbahi oleh St. Fransisko dari Assisi!

 

Saya mencintai Sang Guru - Pengarang.

Saya mencintai para pembaca buku ini dan berharap agar mereka dapat menikmati buku ini.

Dengan Berkah Tuhan,

Helmut Nitzschke, Berlin, Jerman, 27 Juli 2007.