Oleh Saudari Jiang, Cina Daratan (Asal dalam
bahasa Cina)
Pada siang hari tanggal 24 April, Tahun Emas 3 (2006), saya sedang beristirahat di ruang keluarga Saudari Liang. Saudari Yang dan seorang saudari lainnya juga berada di sana. Saya bersandar dan menatap pada foto Guru di dinding. Di dalam foto, Guru memakai baju dan topi berwarna putih dan sedang duduk di atas sebuah batu. Guru membelakangi kamera dan kelihatannya sedang konsentrasi mengerjakan sesuatu. Tidak dapat dipastikan apakah Guru sedang menghias sebuah batu, melukis sebuah pemandangan, atau membaca buku. Di sebelah kiri-Nya ada sebuah keranjang berisi makanan; di sebelah kanan-Nya tergeletak sebuah tongkat yang menyentuh batu di tanah. Di sana juga ada pohon, sebuah sungai kecil, dan batu berbagai ukuran. Langit sedikit kelabu dan gelap. Saya sangat menyukai foto
Guru dengan pemandangan pegunungan liar tersebut. Saat menatap foto
tersebut, tiba-tiba saya melihat seberkas cahaya putih turun dari
langit ke sisi tangan kanan Guru. Saya berusaha tenang. Untuk
memastikan kalau cahaya itu bukan refleksi dari sinar matahari di luar,
saya meminta saudari inisiat yang berada di dekat foto itu untuk
menggeser sedikit posisi foto, dan dia segera melakukannya. Tepat pada
saat itu, keajaiban terjadi. Tiba-tiba kami bertiga melihat cahaya
putih yang sangat terang yang terpancar dari puncak kepala Guru lalu
turun melewati tongkat di sisi kanan-Nya dan mencapai batu di tanah
tersebut. Pemandangan tersebut mengingatkan saya kepada mimpi Zhuang Zi: “Semalam saya bermimpi; saya menjelma menjadi seekor kupu-kupu. Tetapi, saya tidak yakin apakah saya yang berubah menjadi seekor kupu-kupu, atau kupu-kupu yang berubah menjadi saya.” (Dari Bab “Ci Wu Lun” dari Zhuang Zi) Dalam perasaan yang sama, saya tidak yakin apakah kami yang menjadi cahaya, air, dan angin sepoi-sepoi; atau apakah cahaya, air, dan angin sepoi-sepoi yang menjadi kami. Bermandikan cahaya terang, dibuai angin lembut sepoi-sepoi dan dibersihkan dalam aliran air, kami bertiga sangat bahagia dan damai. Kami dapat merasakan ketenteraman pohon ketika menari dan kegembiraan bebatuan ketika bersinar. Dan ada juga nektar yang memaniskan ujung lidah kami. Mungkin ini adalah pembaptisan yang sejati! “Ya! Ini adalah pembaptisan yang sejati dari Tuhan!” seru saudari Liang dalam luapan kegembiraan. Merasakan berkah Ilahi, kami
semua melompat turun dari kursi, berlutut di lantai dan bersujud kepada
Guru. Kami berkata,”Terima kasih Guru! Terima Kasih Guru!” Ini
merupakan pengalaman luar biasa yang telah mengubah kami menjadi anak
umur tiga tahun yang tidak tahu harus berbuat apa, kecuali bersujud
kepada Guru. Pengalaman yang penuh keajaiban tersebut berlangsung
hampir 40 menit….
|
|||||||